Friday, July 7, 2017

Mengarungi Samudra Gender dalam Tradisi Lokal


Serupa ucap perempuan
Ada suatu masa ketika saya berteman dengan seseorang, yang bagi saya, dan teman-teman saya lainnya, terasa ganjil. Ia seorang selebritis di lingkungan seni dan budaya, terutama di kalangan masyarakat kelas atas (crème de la crème). Penampilan sehari-harinya gagah, selalu berjalan tegak menengadah, dengan langkah cukup tegap, tatapannya pun tajam; tetapi saat bercakap-cakap muncullah sesekali gerakan tubuh yang tak sesuai dengan gendernya. Rumor di sekitar kami mengatakan dia gay, tapi saya dan juga beberapa teman lainnya yang dekat dengannya, tak pernah menyinggung hal itu di depannya. Kami seperti sepakat bahwa itu adalah urusan pribadinya, tak seharusnya kami mencampurinya. Kami berpura-pura tak tahu apa-apa, dan segala urusan sehari-hari berjalan baik-baik saja.

Tentu ada saja suatu waktu di mana dia tak ada, kami pun mempergunjingkannya. Melihat sosok teman-temannya yang sejenis, saya pernah merasani, “Kok tampilan mereka rata-rata seperti orang Yunani ya?” Yang sempat ditimpali oleh salah seorang teman, “Itu tidak salah, karena Yunani memang asal muasal homoseksual.” Walau pernyataan ini terkesan menyederhanakan dan bisa diperdebatkan, saya tak memperpanjangnya. 

Suatu sore, saya diajak oleh teman saya yang gay itu ke rumah salah seorang teman yang juga dikenal sebagai gay untuk suatu urusan bisnis. Itu menjadi saat pertama saya menyaksikan sendiri perubahan dramatis dari seseorang yang sehari-harinya berpenampilan lelaki tiba-tiba berucap serupa perempuan. Saya terkejut melihat teman saya yang beberapa menit sebelumnya masih berbicara dengan nada dan sikap pria, ketika berhadapan dengan sesama jenisnya bisa seperti lunglai dan sontak menjadi gemulai. Untuk sesaat saya tak lagi bisa mengenali teman saya itu. Seperti ada pribadi liyan yang tengah merasuki tubuhnya. Saya sangat syok!

Dan ketika untuk kedua kalinya saya diajak mengunjungi rumah temannya itu lagi, kali ini untuk suatu jamuan makan malam, serta merta saya menolaknya. Saya masih trauma dengan pengalaman yang lalu. Ia bersikeras, bahkan menjemput saya jelang acara dimulai. Saya tetap menolaknya. Pergi dengan setengah kesal dari rumah saya, rupanya ia berhasil mengajak teman lainnya, seorang  bulé yang berprofesi sebagai desainer lanskap. Keesokan harinya, ketika saya berjumpa dengan teman bulé itu, ia menyatakan penyesalannya telah menghadiri acara itu. Ia menyatakan keterkejutan yang sama, dan bercerita betapa ia seperti terisolasi malam itu di kerumunan insan kemayu.

Menebar gulita
Puluhan tahun sesudahnya, pandangan masyarakat pada umumnya terhadap kaum LGBT ini belum juga banyak bergeser. Termasuk pandangan saya, hingga (berkat Robert Wilson)[i] saya boleh menyapa naskah sakral Sureq Galigo (yang dituliskan di abad ke-13–15)[ii], dan mengetahui sedikit mengenai keberadaan bissu[iii].

Kondisi nya terasa fluktuatif , meluas dan menyempit sepanjang jalan. Telah bertumbuh gerakan-gerakan moral mendukungnya, tapi penolakan terhadap eksistensi mereka juga semakin keras. Bahkan dari kalangan pejabat publik tingkat atas. Juga dari organisasi keagamaan, dan berbagai kelompok intoleran. Ada suatu masa di mana masyarakat bisa menerima kehadiran para selebritis laki-laki berpakaian perempuan di panggung komedi atau layar lebar. Tapi juga ada banyak masa-masa yang menunjukkan hal sebaliknya. Dunia kita ini telah begitu kaku mengatur pengelompokan jenis kelamin, ekspresi gender, identitas gender, dan orientasi seksual ke kategori serba biner: pria atau wanita, gay atau straight, dan sulit menerima perbedaan.

Komunitas LGBT bahkan sudah harus mengalami diskriminasi sejak kanak-kanak. Sekolah memiliki sejarah panjang dalam memperkuat persepsi biner tentang jenis kelamin siswanya. Bahkan sebelum anak-anak memasuki sekolah pertama kalinya, orang tua atau walinya diminta untuk mencentang di kotak ‘pria atau wanita’ pada formulir pendaftaran. Pada hari pertama sekolah, para guru mungkin akan memisahkan anak laki-laki dan perempuan di barisnya masing-masing. Toilet ditandai untuk anak laki-laki dan perempuan. Bayangkan menjadi seorang siswa transgender yang harus mengalami dehidrasi demi menghindari penggunaan kamar kecil untuk anak perempuan sepanjang hari, atau yang putus sekolah gara-gara dibombardir dengan pelecehan verbal atau fisik atas ekspresi orientasi seksualnya. Di mana-mana ada ekspektasi tentang permainan dan pakaian seperti apa yang tepat untuk siapa, tentang siapa yang secara alamiah memiliki sifat kasar dan sebaliknya. Seiring bertambahnya usia, mereka menjadi sasaran harapan atas kegiatan ekstrakurikulernya, gaya berpakaian, bahkan perguruan tinggi dan karier apa yang didorong untuk mereka raih setelah lulus.

Ketidaktahuan, ditambah dengan kurangnya informasi, pada sebagian besar orang bahwa mereka ini varian dari identitas yang default, berlangsung di mana-mana, dengan sangat sedikit pengecualian[iv]. Padahal, individu yang tinggal dengan nyaman di luar ekspektasi dan identitas pria/wanita yang khas, bisa ditemukan di berbagai belahan dunia. Calabai dan calalai di Sulawesi Selatan, two-spirit yang ditemukan di beberapa budaya pribumi Amerika, dan hijra di India, adalah beberapa di antaranya yang mewakili pemahaman gender yang lebih kompleks daripada model biner. Setidaknya tujuh negara termasuk Australia, Bangladesh, Jerman, India, Nepal, Selandia Baru, dan Pakistan mengakui eksistensi gender ketiga pada dokumen legalnya. Seiring orang-orang di seluruh dunia menggunakan beragam istilah untuk mengomunikasikan identitas gender mereka, Facebook kini menawarkan kepada para penggunanya 52 pilihan untuk menentukan jenis kelamin mereka.

Barulah matahari bersinar cerah

“Ia datang malam hari dan tak dapat ditangkap oleh lelaki atau perempuan tulen, hanya oleh waria.” —Puang Matoa Saidi, Bahasa Para Dewa (I La Galigo, 2011)

Sistem biner hanya mengakui adanya dua jenis gender, wanita (woman) dan pria (man); serta dua jenis kelamin biologis, perempuan (female) dan laki-laki (male). Tapi tradisi Bugis mengenal eksistensi lima jenis kelamin, yaitu: oroane (laki-laki); makunrai (perempuan); calalai (perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki); calabai (laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan); dan golongan bissu, perempuan atau laki-laki yang dianggap sebagai kombinasi dari semua jenis gender itu (no-gender). Dr. Gregory Acciaioli, antropolog Amerika Serikat yang mengajar di Universitas Western Australia, membayangkan sistem gender Bugis ini sebagai piramida, dengan bissu di puncak, dan laki-laki, perempuan, calalai, dan calabai di empat sudut dasar (Graham, 2007).

Naskah Sureq Galigo menunjukkan bahwa munculnya bissu di Bone diawali ketika Raja Luwuq (kerajaan tempat lahir budaya Bugis) diturunkan dari langit. Karena tidak mampu mengatur kehidupan di muka bumi maka kemudian diturunkanlah pula bissu sebagai penghubung antara manusia dengan dewata. Bissu pertama bernama Lae-lae. Di pundak bissu inilah semua upacara keagamaan, untuk memuja Sang Pencipta, dibebankan. (Masgabah, 2017). Kedatangan bissu pertama ke bumi digambarkan dalam fragmen ini:

Meski matahari tepat di atas kepala,
tak berbayang sinarnya di Barat
tak tampak cahayanya di Timur.
bagaikan dibendung cahaya matahari.
Bumi gelap gulita,
telapak tangan tak tampak,
pun tak terlihat wajah manusia.
Badai datang tanpa henti,
sabung-menyabung bunyi guntur,
sambar-menyambar lidah petir,
meluap-luap nyala kilat dewata.
Diusung badai Puang ri Lae-Lae
yang tinggal di lereng gunung Latimojong.
Diturunkan pula Wé Salareng dan Wé Appang Langiq,
Bissu yang dikukuhkan di Leteng Nriuq.
Setelah mendarat Puang Matoa
di lereng gunung Latimojong,
barulah badai dihentikan,
petir dan guntur berbalasan
dipadamkan, pun kilat menyala-nyala.
Barulah matahari bersinar cerah.

Para Bissu Datang dari Dunia Atas, Cuplikan dari Sureq Galigo (I La Galigo, 2011)


1. Naskah Sureq Galigo versi abad ke-19.

Epos ini berkembang sebagian besar melalui tradisi lisan dan masih dinyanyikan pada acara-acara tradisional Bugis. Versi tertulisnya yang paling awal diawetkan pada abad ke-18, sementara versi-versi sebelumnya telah hilang akibat serangga, iklim, atau perusakan. Akibatnya, tak ada lagi versinya yang pasti dan lengkap. Namun bagian-bagian yang telah diawetkan pun sedikitnya ada 6.000 halaman folio atau 300.000 baris teks, dituliskan dalam aksara Bugis dalam bahasa adiluhung, membuat Sureq Galigo sebagai salah satu karya sastra terbesar dunia.

Sumber gambar: WikiCommons.

Sosok bissu bisa dibayangkan sebagai insan hermaproditik yang mengandung elemen laki-laki dan perempuan sekaligus. Pakaiannya pun khusus, menonjolkan karakteristik perempuan dan laki-laki bersama-sama. Seorang bissu bisa saja membawa sebilah badi’, senjata kaum lelaki, serta menggabungkannya dengan bunga di rambutnya. Tidak hanya kombinasi atribut laki-laki dan perempuan, di dalam dirinya juga harus ada gabungan unsur manusia dan roh. Penting bagi bissu memiliki relasi yang baik dengan dunia roh agar bisa terhubung dengan para dewata dalam memenuhi tugasnya sebagai pendeta. Untuk itu, bissu harus menjadi bagian dari dewa. Agar bisa kerasukan arwah, dan supaya bisa memberikan berkatnya, bissu juga harus menjadi bagian dari manusia. Intinya, bissu adalah laki-laki/perempuan, dewa/manusia, yang bisa kesurupan oleh arwah agar bisa memberikan berkah.

Tanda-tanda menjadi bissu (kondisi terpanggil) ini biasanya sudah terungkap sejak kanak-kanak, terlihat pada bayi yang genitalnya ambigu. Tapi sekadar genitalia yang ambigu belum cukup memastikan seseorang akan menjadi bissu. Selain itu, ambiguitas ini juga tidak selalu tampak; seorang laki-laki normatif yang bisa menjadi bissu diyakini di dalamnya adalah wanita. Pada usia sekitar dua belas tahun, jika seorang anak menunjukkan hubungan yang dekat dengan dunia roh, dia akan dipersiapkan untuk menjadi seorang bissu. Di masa lalu, anak seperti itu akan ditempatkan magang di istana. Pada masa kini, ia akan magang secara individual. Setelah bertahun-tahun mengikuti pelatihan, seorang bissu magang akan menjalani sejumlah tes. Ini termasuk di antaranya, berbaring di atas rakit bambu di tengah danau selama tiga hari tiga malam tanpa makan, minum, atau bergerak. Jika ia bisa bertahan dan terbangun dari trance dalam keadaan fasih berbahasa bissu suci (Basa Bissu atau Bahasa Dewata, bahasa para dewa) dia akan diterima sebagai bissu (Graham, 2002).


2. Pemimpin para pendeta agama kuno pra-Islam yang non-gender (bissu), Puang Matoa Saidi (1958–2011).

Sebagai salah seorang bissu terakhir, Saidi dilibatkan sebagai narator utama dalam pentas teater, tari, dan musik I La Galigo,arahan Robert Wilson, yang pergelarannya telah dilangsungkan sejak 2004 di Asia, Eropa, Australia, dan Amerika Serikat. 

Sumber gambar: WikiCommons.


Sharyn Graham, peneliti dari Universitas Western Australia, memiliki keluasan mengamati penerimaan masyarakat Bugis pada peran dan fungsi bissu, calalai serta calabai dalam berbagai aspek kehidupan. Pada Agustus 1998, bersama sekelompok orang lainnya, ia terlibat dalam sebuah upacara di mana para bissu berlaku sebagai pemimpin upacara (priest). Dalam kesempatan ini, seorang ibu yang akan berziarah ke Mekkah membutuhkan restu dari arwah para leluhur sebelum berangkat. Untuk menghormati roh yang merasukinya, dan memberkati ziarah ibu itu, para bissu mempersembahkan ma’giri. Masing-masing bissu mengeluarkan kris (keris) dan menusukkannya ke tenggorokan mereka. Jika roh yang kuat telah merasukinya, dan dengan demikian berkatnya diberikan, keris tidak akan melukai mereka.

Sementara itu, seorang calalai, yang dari anatominya terlihat perempuan, sering menjalani peran dan fungsi yang pada umumnya dilakukan oleh laki-laki. Misalnya, seorang calalai bisa dijumpai sedang bekerja bersama-sama para lelaki sebagai pandai besi, membentuk kris, belati kecil, atau pisau lainnya. Ia memakai busana laki-laki, dan mengikatkan sarong (sarung) serta rambutnya dengan cara pria. Seorang calalai boleh jadi dapati tinggal bersama istri dan anak angkat mereka. Sementara ia bekerja dengan laki-laki, berpakaian seperti laki-laki, merokok, dan berjalan sendiri di malam hari, yang merupakan semua hal yang tidak dianjurkan bagi perempuan, calalai adalah perempuan dan karenanya tidak diperlakukan sebagai laki-laki. Ia juga tak ingin menjadi laki-laki. Ia tetaplah calalai. Anatominya yang perempuan, ditambah dengan pekerjaan, perilaku, dan seksualitasnya, memungkinkannya mengidentifikasi, dan diidentifikasi, sebagai calalai.

Calabai sebaliknya, secara anatomis laki-laki, dalam banyak hal mematuhi ekspektasi sebagai perempuan. Namun, calabai tidak menganggap dirinya perempuan, dan tidak dianggap perempuan. Mereka juga tidak ingin menjadi perempuan, baik dengan menerima batasan yang ditetapkan bagi perempuan seperti tidak pergi sendiri di malam hari, atau dengan mendesain ulang tubuh mereka melalui operasi.

Sementara calalai cenderung menyesuaikan diri dengan norma laki-laki, calabai menikmati peran khususnya di masyarakat Bugis. Jika ada pernikahan, calabai akan dilibatkan dalam pengorganisasiannya. Ketika tanggal pernikahan telah disepakati, keluarga akan mendekati calabai dan menegosiasikan rencana pernikahan. Calabai akan bertanggung jawab atas banyak hal, mulai dari menyiapkan dan mendekorasi tenda, mengatur kursi pengantin, gaun pengantin, kostum untuk pengantin pria, rias wajah untuk semua yang terlibat, dan makanan yang disajikan. Pada siang hari, beberapa calabai tetap berada di dapur menyiapkan makanan, sementara yang lain menjadi bagian dari resepsi, seperti mengantar tamu ke tempat duduk mereka (Graham 2007).

Sesungguhnya studi mengenai peran dan posisi bissu, calalai, dan calabai dalam masyarakat Bugis berpotensi memberi kontribusi substansial bagi pemahaman tentang bagaimana sebuah komunitas mengatur dan menafsirkan gender. Tak setiap masyarakat memaksakan hanya dua jenis gender, wanita dan pria, yang terikat masing-masing pada dua jenis kelamin biologis, perempuan dan laki-laki. Masyarakat Bugis mengakui adanya empat kategori gender, di samping gender kelima (meta-gender), yaitu kelompok bissu. Kecendekiaan masyarakat Bugis mengajarkan kepada kita mengenai penerimaan dan penghormatan pada hadirnya varian identitas gender di tengah kita. Bahwa mereka sesungguhnya sesama anak Semesta, bagian dari kehidupan yang penuh warna dan semarak di muka Bumi.

We can easily forgive a child who is afraid of the dark; the real tragedy of life is when men are afraid of the light.” —Plato




———
[i] Robert Wilson (l. 1941) adalah seorang pentolan teater eksperimental Amerika dan penulis naskah yang oleh media digambarkan sebagai seniman teater avant-garde terdepan dunia. Ia terkenal dengan karya kolaborasinya bersama komponis Philip Glass (l. 1937), Einstein on the Beach. (Wikipedia)

[ii] Sureq Galigo adalah wiracarita mitos penciptaan suku Bugis yang terabadikan lewat tradisi lisan dan tulisan. Ia terekam dalam bentuk syair. Disampaikan di dalamnya kisah tentang sejarah, bahasa, dan cerita agung yang terkait dengan mitos. Ia juga merupakan salah satu epos terpanjang dalam sastra dunia. Sedikit saja yang tahu fakta mengejutkan bahwa salah satu warisan agung sastra dunia ini ditemukan di masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan, Indonesia. Bagi sebagian komunitas Bugis, bahkan hingga kini, kisah-kisah yang disampaikan dan tempat-tempat yang disebutkan di dalamnya sungguh nyata. Kisah itu kisah sejarah. Berkat pertunjukan teater Robert Wilson, I La Galigo yang dipentaskan di Singapura sejak 12 Maret 2004, dan kemudian kebeberapa negara, kini dunia internasional tahu apa sebetulnya Sureg Galigo yang telah nyaris punah itu. Bedanya, pentas I La Galigo adalah pengalaman audio visual dan non-tekstual, sementara Sureq Galigo adalah karya tekstual. (Roger Tol, 2011: 27–33)

[iii] Bissu adalah kaum pendeta yang tidak mempunyai golongan gender dalam kepercayaan tradisional Tolotang yang dianut oleh komunitas Amparita Sidrap dalam masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan di Pulau Sulawesi, Indonesia. Golongan Bissu umumnya disebut “di luar batasan gender”, suatu “makhluk yang bukan laki-laki atau perempuan”, atau sebagai “memiliki peran ritual”, di mana mereka “menjadi perantara antara manusia dan dewa”. (Wikipedia)

[iv] Prof. Irwanto, PhD, guru besar Fakultas Psikologi, Universitas Atma Jaya, Jakarta, dan peneliti aktif untuk berbagai persoalan stigma dan diskriminasi, menjelaskan fenomena LGBT dengan analogi ikan lele yang banyak jenisnya tapi tidak ada yang persis sama. Menurutnya, ilmu biologi tidak pernah hanya mengidentifikasi dua jenis seks, tapi ada pula jenis ketiga yang hermaproditik, yang merupakan khalayak yang memiliki dua alat kelamin. (Prof. Irwanto, 2016).
 
Demikian pula halnya dengan organisasi kesehatan dunia WHO, yang telah menyatakan bahwa LGBT bukan fenomena sakit jiwa melainkan varian biasa dari seksualitas manusia. (Jurnal Perempuan, 2015)


***


———
Referensi

Sharyn Graham. 2002. Sex, Gender, and Priests in South Sulawesi, Indonesia. International Institute for Asian Studies, iias.asia (diakses 30 Juni 2017).

Sharyn Graham. 2007. Sulawesi’s fifth gender. Inside Indonesia, .insideindonesia.org (diakses 2 Juli 2017).

Puang Matoa Saidi. 2011. Bahasa Para Dewa. I La Galigo, Change Performing Arts dan Bali Purnati Foundation.

Cuplikan dari Sureq Galigo. 2011. I La Galigo, Change Performing Arts dan Bali Purnati Foundation.

Gilbert Harmonie. 2011. Pendeta Bissu, antara Mitos dan Kenyataan. I La Galigo, Change Performing Arts dan Bali Purnati Foundation.

Roger Tol. 2011. Puisi Sureq Galigo. I La Galigo, Change Performing Arts dan Bali Purnati Foundation.

Masgabah. 2017. Eksisten Bissu di Bone dalam Mempertahankan Nilai Budaya Lokal di Kabupaten Bone. Balai Pelestarian Nilai Budaya Makassar, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbsulsel (diakses 4 Juli 2017).

Prof. Irwanto: Asal Mula LGBT dari Sisi Psikologi dan Kedokteran. 2016. Suara.com, www.suara.com (diakses 6 Juli 2017).

Keragaman Gender dan Seksualitas. 2015. Jurnal Perempuan, jurnalperempuan.org (diakses 28 Juni 2017).




———
Tulisan lainnya di sini.


Sunday, January 22, 2017

Ketuhanan Mohammad Natsir


Saudaraku, tidak banyak orang yang dapat menyatukan pada dirinya semangat keislaman yang kuat, nasionalisme yang kuat, integritas yang kuat, serta toleransi yang kuat. Salah seorang dari sedikit figur seperti itu ditunjukkan oleh Mohammad Natsir.

Lahir di Solok, Sumatera Barat, 17 Juli 1908, sebagai anak dari seorang juru tulis kontrolir, Natsir kecil mengawali mendidikan dengan memasuki HIS di Solok yang dikombinasikan dengan pendidikan madrasah (diniyah) yang dikelola oleh para pengkut Haji Rasul (Ayah Hamka). Setelah itu, ia memasuki MULO (1923-1927) dan berlanjut ke AMS di Bandung, hingga tamat pada tahun 1930.

Memasuki jaringan Haji Rasul, Natsir sedari dini telah terekspos pada gerakan reformisme-modernisme Islam. Pertemuannya dengan pemimpin Persis, A. Hassan, saat dia belajar di AMS Bandung mempertautkannya kembali dengan jaringan intelektual reformis dan menyurutkan cita-citanya untuk mengambil gelar dari perguruan tinggi hukum.

Erudisinya baik dalam pengetahuan sekuler maupun pengetahuan agama menjadikannya sebagai seorang intelektual organik dari umat Muslim yang mulai diakui sejak dia menjadi ko-editor majalah Pembela Islam (bersama dengan A. Hassan) pada tahun 1929. Ketika Natsir mulai menjadi ko-editor majalah tersebut, ruang publik didominasi oleh wacana-wacana tentang nasionalisme. Dia mulai ambil bagian dalam polemik tentang Islam dan nasionalisme pada tahun 1931, dimana ia memperkenalkan istilah “Kebangsaan Muslim” sebagai alternatif dari “Nasionalisme sekuler”.

Keterlibatan Natsir dalam pegerakan dimulai dengan memasuki perkumpulan pelajar Muslim, Jong Islamieten Bond, yang memberinya bekal menjadi aktivitas politik pada tahun 1940 ketika dia menjadi ketua PII (Partai Islam Indonesia) cabang Bandung. Di masa Revolusi Kemerdekaan, Natsir tampil sebagai rising star dalam kepimpinan kaum Muslim. Ia terpilih menjadi Wakil Ketua KNIP (Komite NasionalIndonesia Pusat), ikut mendirikan dan memimpin Partai Masyumi, memimpin kementerian (menteri pertahanan dan penerangan). Setelah revolusi kemerdekaan, ia menjadi Perdana Menteri dan pengaruh kepemimpinannya meluas ke tingkat internasional. Ia pernah menjadi Presiden Liga Muslim se-Dunia (World Moslem Congress), Ketua Dewan Masjid se-Dunia, serta anggota Dewan Eksekutif Rabithah Alam Islamy yang berpusat di Mekkah.

Sebagai pemimpin bangsa dan pemimpin Islam, Natsir menampilkan diri sebagai pribadi dengan hikmat-kebijaksanaan tinggi, yang dapat menempatkan agenda keislaman dalam kepentingan yang lebih luas. Hal ini tercermin dari inisiatifnya dalam menggagas apa yang dikenal sebagai “Mosi Integral Natsir”. Dalam Mosi ini, jalan keluar dari Negara RIS menuju NKRI ditempuh dengan mengajak semua pihak untuk tidak menyinggung masalah federalisme atau unitarisme demi kepentingan nasional yang jangkauannya lebih jauh. Natsir juga menyerukan agar tidak memaksa negara-negara bagian untuk membubarkan diri, mengingat kedudukannya yang setara dengan Republik berdasarkan Konstitusi RIS. Solusinya adalah mengajak negara-negara bagian meleburkan diri ke dalam Republik. Dalam menggagas Mosi ini, Natsir sebagai pemimpin partai terbesar, Masjumi, terlebih dahulu melakukan penjajagan. Di Negara Pasundan ia menemui Sekarmadji Kartosoewirjo untuk tidak memproklamirkan Darul Islam. Di parlemen ia berunding dengan I.J. Kasimo dari Fraksi Partai Katolik, AM. Tambunan dari Partai Kristen dan Mr. Hardi dari PNI.

Hal ini membuktikan bahwa manusia selalu lebih kaya daripada suatu kategori. Ketika suatu kategori dipaksakan untuk merepresentasikan seseorang, selalu ada luberan yang tak tertampung oleh kategori tersebut. Terlebih jika seseorang itu manusia besar, yang selalu lebih besar dari dirinya sendiri. Seorang Natsir, yang dikategorikan sebagai figur ”Islamis”, yang secara stereotip diperhadapkan dengan ”nasionalis”, dalam momen-momen kritis yang mengancam kelangsungan bangsa lebih mengedepankan kepentingan nasional ketimbang kepentingan dan ideologi partainya. Pengalaman traumatik pencoretan Piagam Jakarta segera dilupakan ketika panggilan revolusi harus diutamakan. Natsir berkata, ”Di Yogyakarta selama revolusi kemerdekaan, saya adalah salah satu diantara menteri-menteri yang memiliki hubungan paling dekat dengan Soekarno... Polemik-polemik yang tajam di antara kami pada 1930-an mengenai dasar negara Indonesia merdeka telah terlupakan.”

Selama lima tahun (1950-1955) dominasi Muslim dalam kepemimpinan politik nasional, partai-partai Islam menjungjung tinggi prinsip demokrasi sambil menidurkan obsesinya terhadap politik identitas. Dalam kapasitasnya sebagai Perdana Menteri, Natsir menentang keras pemberontakan Darul Islam. Dia percaya bahwa konsep negara Islam merupakan suatu yang ideal, yang tidak bisa diraih melalui kekerasan. Saat yang sama, dia menegaskan bahwa kaum Muslim harus memperjuangkan tata politik yang demokratis. ”Sejauh terkait dengan (pilihan) kaum Muslim, demokrasilah yang diutamakan, karena Islam hanya bisa berkembang dalam sistem yang demokratis.”

Ketika Masjumi berkuasa, Natsir juga tak ragu mengakui Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Dalam pidatonya di Pakistan Institute of World Affairs, 1952, ia membela Pancasila yang menurutnya selaras dengan prinsip-prinsip Islam. Dengan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama, lima sila itu dipandangnya menjadi dasar etika, moral dan spiritual bangsa Indonesia yang selaras dengan tauhid. Hal yang serupa ia utarakan pada peringatan Nuzulul Qur’an, 1954: ”Rumusan Pancasila merupakan hasil pertimbangan yang mendalam di kalangan pemimpin nasional selama puncak perjuangan kemerdekaan Indonesia pada 1945. Saya percaya bahwa dalam momen yang menentukan semacam itu, para pemimpin nasional yang sebagian besar beragama Islam tidak akan menyetujui setiap rumusan yang dalam pandangan mereka bertentangan dengan prinsip dan doktrin Islam.”

Natsir membuktikan bahwa menjadi Muslim yang taat tidak berarti kehilangan respek pada yang berbeda keyakinan. Rasa welas asih bisa menembus batas keyakinan, ideologi, ras dan etnis. Saat ditunjuk menjadi Perdana Menteri pada September 1950, sebagai bentuk penghargaan atas mosinya yang elegan, Natsir tak sungkan membentuk kabinet koalisi dengan melibatkan unsur-unsur non-Muslim. Ia memelopori pembentukan kabinet ahli (zaken kabinet) dengan tak segan merekrut orang-orang profesional dari berbagai latar keagamaan: ada FS. Harjadi (Katolik/Partai Katolik), J. Leimena (Kristen/Partai Kristen Indonesia), M.A. Pellaupessy (Kristen/Fraksi Demokratik), dan Herman Johannes (Kristen/PIR).

Selain menjalin persahabatan yang hangat dengan tokoh-tokoh non-Muslim, Natsir pun bisa minum teh dan makan sate bersama dengan tokoh Partai Komunis Indonesia (PKI) D.N. Aidit di kantin parlemen. Ia kerapkali menekankan bangsa Indonesia dengan segala keragamannya harus “senantiasa mencari titik persamaan”. Karena itu, ia menganjurkan paham toleransi yang bersifat aktif. Dalam tulisannya di majalah Masyumi, Hikmah, edisi Februari 1954, ia menulis: “Toleransi yang diajarkan oleh Islam itu, dalam kehidupan antara agama bukanlah suatu toleransi yang bersifat pasif, ia itu aktif! Aktif dalam menghargai dan menghormati keyakinan orang lain. Aktif dan bersedia senantiasa untuk mencari titik persamaan antara bermacam-macam perbedaan. Bukan itu saja! Kemerdekaan beragama bagi seorang Muslim adalah suatu nilai hidup yang lebih tinggi daripada nilai jiwanya sendiri. Apabila kemerdekaan agama terancam dan tertindas, walau kemerdekaan agama bagi bukan orang yang beragama Islam, maka seorang Muslim diwajibkan untuk melindungi kemerdekaan ahli agama tersebut agar manusia umumnya merdeka untuk menyembah Tuhan menurut agamanya masing-masing, dan di mana perlu dengan mempertahankan jiwanya.”

Di dalam artikelnya tersebut, Natsir menegaskan bahwa Al-Quran jelas mengajarkan bahwa seorang Muslim diperintahkan untuk berjuang membela orang yang kena kezaliman, yaitu mereka yang diusir dari tempat kediamannya hanya lantaran mereka mempertahankan keyakinan. Ia harus berjuang untuk mempertahankan biara-biara, gereja-gereja, tempat-tempat sembahyang dan mesjid-mesjid yang di dalamnya diseru dan disebut nama Allah. (Natsir, 1954 & 1957).

Semangat ketuhanan yang berperikemanusiaan juga tercermin dalam akhlak mulia. Natsir terpandang sebagai pribadi yang berintegritas. Kebersihan dan kebersahajaan dikisahkan oleh George McTurnan Kahin, Indonesianis terkemuka dari Cornell University, Amerika Serikat (AS). Dalam kungjungannya ke Yogyakarta pada tahun 1948, Kahin melihat penampilan Natsir yang hampir-hampir tak menunjukkan dirinya sebagai menteri penerangan. Natsir mengenakan jas yang penuh dengan tambalan di sana-sini; dan belakangan ia juga tahu bahwa para staf Kementerian Penerangan mengumpulkan uang untuk membeli baju buat Natsir.

Menjadi Perdana Menteri tidak membuat penampilan Natsir banyak berubah. Ia menempati rumah bekas Soekarno di Jalan PegangsaanTimur (kini Jalan Proklamasi), Jakarta Pusat. Sebelum pindah kerumah tersebut, Natsir dan keluarganya tinggal menumpang disebuah gang di Jalan Jawa dan lalu di kawasan Tanah Abang. Mengenai kendaraan Natsir kala itu, Majalah Tempo, edisi 14 Juli 2008, melukiskannya cuma mempunyai mobil bermerk DeSoto yang telah kusam. Pada 1956, Natsir ditawari sebuah mobil sedan mewah buatan AS, namun ia menolak dengan halus. Setelah melepaskan jabatannya sebagai Perdana Menteri, Natsir pun segera meninggalkan rumah dinasnya di Jalan Proklamasi dan kembali ke Jalan Jawa (Nugroho, 2011).

Selain itu, ia juga menolak mendapatkan sisa dana taktisnya sebagai Perdana Menteri yang saldonya lumayan banyak. Ia malah menyuruh sekretarisnya, Maria Ulfa, untuk menyerahkan sisa dana taktis itu kepada koperasi pegawai. Begitu berhenti sebagai Perdana Menteri, Natsir meninggalkan mobil dinasnya di Istana Kepresidenan. Ia memilih untuk membonceng sopirnya pulang ke rumah di Jl. Proklamasi.

Mohammad Natsir bisa disebut sebagai tokoh Muslim-demokrat sejati. Kepergian untuk selamanya, pada 6 Februari 1993, meninggalkan lobang besar dalam jantung keislaman dan kebangsaan.

(Yudi Latif, Makrifat Pagi).

Mohammad Natsir (1908–1993). Sumber: Wikimedia Commons.

Tuesday, January 17, 2017

Ketuhanan Soedirman

Saudaraku, semangat ketuhanan yang memijarkan keberanian rela berkorban dalam memperjuangkan kebenaran dan keadilan menjelma dalam sosok Jenderal Soedirman.

Lahir di Purbalingga, Jawa Tengah, pada 24 Januari 1916, Panglima TNI pertama pada usia 29 tahun itu memulai studinya di HIS, terus ke MULO, dan berujung di Sekolah Guru Bantu Hollandsche Indische Kweekschool, meski sekolahnya yang terakhir ini tidak sampai tamat. Perjumpaannya dengan tokoh Muhammadiyah Cilacap, R. Mohammad Kholil, mengantarkan Soedirman menjadi guru sekolah dasar di HIS Muhammadiyah Cilacap.

Sewaktu bersekolah di MULO, Soedirman mulai mendapatkan kesadaran nasionalisme dari guru-guru yang kebanyakan aktif di organisasi Budi Utomo. Di kelas, selain bersemangat mempelajari ilmu-ilmu umum, ia juga tekun belajar agama. “Saking tekunnya pada pelajaran agama, Soedirman diberi julukan Kaji atau Haji,” ujar sejarawan Rushdy Hoesein. Semasa itu pula ia mulai bergiat dalam organisasi kepanduan Hizbul Wathan, di bawah bendera Muhammadiyah, hingga mencapai tahap “Menteri Daerah” (setingkat Ketua Kwartir Daerah). “Watak disiplin dan tanggung jawab yang Soedirman miliki hingga menjadi Panglima Besar awalnya dipupuk di Hizbul Wathan,” ujar ahli sejarah TNI, Saleh Djamhari.

Sebelum memutuskan bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA), Soedirman sesungguhnya tidak dalam kondisi yang ideal untuk menjadi seorang tentara. “Saya cacat, tak layak masuk tentara,” ujar Soedirman. Kaki kirinya pernah terkilir saat bermain sepak bola, yang membuat tulang lututnya bergeser. Saat ia mengutarakan tekadnya masuk PETA kepada istrinya, Siti Alfiah, sang istri mengingatkan soal kakinya dan penglihatan mata kirinya yang kurang terang. Namun tekad Soediman telah bulat, “Tidak apa-apa, Bu, semua pengalaman ada gunanya. Saya harap Ibu berhati mantap,” ujarnya. Ia masuk PETA angkatan kedua pada 1943 sebagai calon daidancho (setingkat komandan batalion), dan tak lama kemudian mengantarkannya menjadi daidancho Kroya.

Di masa revolusi kemerdekaan, pada 12 November 1945, Soedirman yang berpangkat kolonel terpilih menjadi Panglima Besar Tentara Keamanan Rakyat (TKR)—dalam perkembangannya menjadi Tentara Nasional Indonesia, dan secara resmi dilantik oleh Presiden Soekarno pada 18 Desember 1945. Dalam kedudukannya sebagai Panglima Besar, tak lama kemudian pangkatnya melesat menjadi seorang jenderal. Pembawaannya yang tenang dan kharismatik membuatnya sangat berpengaruh di lingkungan tentara.

Keberaniannya memperjuangkan kebenaran dan keadilan teruji menyusul Agresi Militer Belanda II, yang menyerbu Yogyakarta pada pagi hari 19 Desember 1948. Saat itu, kondisi kesehatannya buruk. Sudah tiga bulan ia beristirahat karena penyakit tuberkolosis (TBC) paru-paru yang dideritanya; dan baru empat hari sebelumnya, ia keluar dari rumah sakit setelah menjalani operasi.

Namun, panggilan Ibu Pertiwi membuatnya segera bangkit. Pada pagi itu pula, ia segera memerintahkan ajudannya, Kapten Soepardjo Roestam, untuk mengumumkan Perintah Siasat Nomor 1, tentang strategi gerilya yang harus dilakukan TNI. Ia juga meminta Soepardjo untuk menemui Presiden Soekarno di Gedung Agung, Malioboro, untuk menyampaikan pesannya agar Presiden Soekarno segera meninggalkan Yogyakarta.

Menunggu kabar dari Soepardjo yang tak kunjung tiba, Soedirman segera bangkit dari pembaringannya, memaksakan diri untuk menemui Presiden Soekarno secara langsung. Beliau hendak meminta Presiden dan pejabat lain untuk segera meninggalkan Yogyakarta untuk memimpin gerilya.

Tetapi, Soekarno dan Hatta rupanya punya perhitungan lain, sehingga memutuskan untuk tetap tinggal di Yogyakarta. Soekarno meyakinkan Soedirman bahwa keadaan bisa diatasi. “Tidak ada sesuatu yang penting. Pulang saja, istirahat,” ujar Soekarno, seraya meminta dokter Soewondo untuk merawat Soedirman.

Soedirman menolak bujukan Presiden Soekarno untuk tetap tinggal di Yogyakarta. “Dia punya sumpah tidak kenal menyerah,” ujar ahli militer Salim Said. “Soedirman paham, selaku pemimpin militer, ia tak boleh ditangkap musuh, agar menjadi salah satu pemegang komando negara,” ujar Saleh Djamhari. Dalam kondisi sakit, ia memutuskan pergi untuk memimpin gerilya. “Yang sakit itu Soedirman, tapi Panglima Besar tidak pernah sakit,” ujarnya. Dengan separuh paru-paru ia memimpin perang gerilya. Selama delapan bulan, sambil ditandu, ia keluar-masuk hutan di sepanjang rute gerilya yang membentang dari Yogyakarta, Kediri, hingga Pacitan.

Kisah Panglima Besar Soedirman yang meski dalam keadaan sakit tidak henti bergerilya telah menjadi teladan tersendiri tentang semangat juang dan semangat berkorban demi Nusa-Bangsa. Demi perjuangan Tanah Air yang dicintainya, Soedirman sampai pernah meminta perhiasan istrinya, Siti Alfiah, untuk ditukarkan dengan makanan bagi keperluan makanan tentara yang dipimpinnya.

Heroisme Soedirman ini melambungkan moral kejuangan di kalangan tentara dan rakyat, meluaskan medan pertempuran ke berbagai wilayah Tanah Air. Sebagai jurus pamungkas, Soedirman memerintahkan Letnan Kolonel Soeharto untuk memimpin Serangan Umum ke Yogyakarta pada 1 Maret 1949, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia masih ada. Serangan Umum ini berhasil dengan gemilang, yang membantu usaha diplomasi Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (Tempo, 2012).

Kerelaan berkorban, dengan kesanggupan mengenyampingkan egoisme juga tercemin dari kebesaran jiwanya menyusul Perjanjian Roem-Roijen yang menimbulkan kekecewaan banyak kalangan. Panglima Besar Soedirman merasa perjanjian itu tidak sepantasnya dilakukan karena pemerintah yang mengirim utusan sedang dalam masa pengasingan dan penahanan Belanda di Bangka. Jenderal Soedirman yang terus memimpin perang gerilya untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia seakan ditinggalkan. Begitu juga dengan Sjafruddin Prawiranegara, pemimpin Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatera. Dengan perjanjian tersebut, kewenangan pemerintahan yang ada pada dirinya seakan diabaikan.

Namun, dengan semangat rela berkorban demi kepentingan umum, ganjalan psikologis dan perbedaan pandangan itu bisa diselesaikan. Sejarawan Taufik Abdullah melukiskan dengan indah semangat itu ketika ia menulis, “Betapa pun pahit yang dirasakan Sjafruddin dan Soedirman, mereka datang juga. Mereka memilih nilai yang lebih tinggi, yaitu perjuangan bersama yang harus dimenangkan. Mereka memilih kembali, demi keutuhan perjuangan.”

Dalam peristiwa itu, Soedirman benar-benar membuktikan konsistensinya dengan apa yang pernah ia katakan dalam sambutannya setelah terpilih sebagai Panglima Tertinggi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Dalam pidatonya itu, ia menegaskan sesuatu yang penting sebagai landasan pedoman perjuangan TNI kemudian: "Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya. Sudah cukup Tentara teguh memegang kewajibannya ini. Lagi pula, sebagai Tentara, disiplin harus dipegang teguh. Tunduk kepada Pimpinan atasannya, dengan ikhlas mengerjakan segala yang diwajibkannya. Harus diingat pula, oleh karena negara Indonesia tidak cukup dipertahankan oleh Tentara saja, maka perlu sekali mengadakan kerjasama seerat-eratnya dengan golongan serta badan-badan di luar Tentara. Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapapun juga. Tunduk kepada perintah pimpinannya, inilah yang menjadi kekuatan suatu Tentara."

Dengan jiwa religius yang lapang, Soedirman lebih mengutamakan keselamatan dan kebahagiaan umum di atas kenyamanan pribadi. Kepada para pemimpin dan prajurit setabah gembala ia pun berpesan: ”Jangan biarkan rakyat menderita, biarlah kita (prajurit, pemimpin) yang menderita.”

(Yudi Latif, Makrifat Pagi)


Soedirman (1916–1950). Sumber: Wikipedia.

Saturday, January 14, 2017

Ketuhanan Johannes Leimena


Saudaraku, pada awal kemerdekaan, Indonesia memiliki seorang dokter religius yang memiliki kepedulian besar pada usaha kesejahteraan sosial, terutama menyangkut kesehatan masyarakat. Dokter itu bernama Johannes Leimena (biasa disapa Oom Jo), Putra Ambon (Maluku), kelahiran 6 Maret 1905. Ia kerap disebut sebagai dokter serba bisa karena selain menjadi dokter yang menguasai berbagai urusan kesehatan, ia juga seorang politisi dan diplomat dalam perundingan antara Indonesia dan Belanda.

Leimena merupakan satu-satunya tokoh politik Indonesia yang pernah menjabat Menteri (termasuk menteri muda, wakil menteri dan wakil Perdana Menteri) dalam 18 Kabinet yang berbeda, selama 21 tahun berturut-turut tanpa terputus; sejak Kabinet Sjahrir II (1946) sampai Kabinet Dwikora II (1966), utamanya di Kementerian Kesehatan dan Sosial. Bahkan ia pun pernah menjadi pejabat Presiden. Selain itu, Leimena juga menyandang pangkat Laksamana Madya (Tituler) di TNI-AL ketika ia menjadi anggota dari KOTI (Komando Operasi Tertinggi) dalam rangka Trikora.

Kepedulian sosial-keagamaannya mulai bangkit saat ia menempuh pendidikan kedokteran tingkat rendah di STOVIA (School Tot Opleiding Van Indische Artsen) di Jakarta dan NIAS (Nederlandsch Indische Artsen School) di Surabaya. Pada masa ini, keprihatiannya atas kurangnya kepedulian sosial umat Kristen terhadap nasib bangsa memberinya motivasi untuk aktif pada “Gerakan Oikumene”. Penghayatan religiositasnya tumbuh bersamaan dengan kesadaran sosialnya. Pada 1926, Leimena ditugaskan untuk mempersiapkan Konferensi Pemuda Kristen di Bandung, yang kemudian melahirkan Organisasi Oikumene pertama di kalangan pemuda Kristen, Cristelijke Studenten Vereeniging (CSV), yang merupakan cikal bakal berdirinya GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia). Selain itu, sebagai aktivis Jong Ambon, ia juga ikut mempersiapkan Kongres Pemuda Indonesia II, yang menghasilkan Sumpah Pemuda.

Setelah menempuh pendidikan kedokteran tingkat rendah di NIAS Surabaya (1930), ia melanjutkan studinya untuk meraih dokter penuh di Geneeskunde Hogeschool (GHS - Sekolah Tinggi Kedokteran) di Jakarta. Ia meraih gelar doktor pada 17 November 1939 dengan disertasi Leverfunctie-proeven bij Inheemschen”, yang mengkaji kasus-kasus penyakit yang dijumpainya selama bertugas. Setelah itu, ia berjuang melalui profesi kedokterannya untuk mengembangkan kemanusiaan; bukan hanya kemanusiaan secara fisik sesuai dengan profesinya sebagai dokter, melainkan juga humanisme transendental yang diwujudkan dalam tindakan. Pemikiran kesehatannya melebihi batas-batas ilmu kedokteran dan kesehatan yang digelutinya.

Dengan humanisme transendentalnya, Leimena menjelma menjadi sosok seorang dokter yang memiliki jiwa dan sifat kesetiakawanan yang tinggi. Sebagai orang beriman, ia mengamalkan ajaran Kristennya ke dalam pergaulan bermasyarakat dan berbangsa. Bagi Oom Jo, beragama dan beribadah adalah “suatu kesadaran yang bertanggung jawab” sehingga dalam prakteknya adalah “berkewarganegaraan yang bertanggung jawab.”

Setelah menyandang gelar dokter, ia mulai diangkat sebagai dokter yang bertugas di CBZ (sekarang RS Cipto Mangunkusumo). Komitmen kemanusiaannya tersentuh saat membantu pasien korban letusan Gunung Merapi, dan tambah menguat ketika bertugas di rumah sakit Immanuel Bandung dan rumah sakit milik pabrik kertas di Padalarang.

Leimena terkenal karena keberhasilannya menemukan racikan obat salep untuk mengobati penyakit kulit ringan, yang banyak diidap rakyat kecil, dengan label “salep Leimena”. Salep yang sangat terkenal mujarab pada zamannya itu membuktikan seorang Leimena sebagai dokter yang inovatif dan peduli kebutuhan rakyatnya.

Oom Jo merasa tak cukup melayani pasien yang ada di poliklinik atau rumah sakit. Ia sering berkunjung ke daerah sekitar Bandung melihat kondisi kesehatan di masyarakat seperti di Sumedang, Padalarang, Majalaya, dan Ciparay. Kelak, hasil persentuhannya dengan masyarakat ini membuatnya memiliki gagasan membentuk poliklinik untuk melayani masyarakat, khususnya petani.

Ketika menjabat Menteri Kesehatan (1953-1955), Oom Jo merumuskan rencana pembangunan kesehatan yang komprehensif yang dikenal dengan nama Rencana Leimena. Rencana ini mengkonsepsikan pelayanan kesehatan untuk pencegahan dan penyembuhan (preventif dan kuratif) dan perimbangan fasilitas layanan kesehatan di kota dan desa. Melihat kondisi kesehatan masyarakat yang disaksikan, menumbuhkan kepedulian pada Leimena. Kepedulian kemanusiaan inilah yang membuatnya sangat mempedulikan kesehatan masyarakat Indonesia, dengan mengembangkan pendirian layanan kesehatan yang sekarang dikenal sebagai Puskesmas.

Sedemikian kuat komitmen dan integritasnya dalam kemanusiaan dan kesejahteraan sosial, tak heran kalau Mohammad Roem, yang pernah menjadi Wakil Perdana Menteri Indonesia, menyebut Leimena sebagai “pribadi yang memiliki integritas, kejujuran penuh dedikasi”. Sri Sultan Hamengkubowono IX (1979) pun pernah mengenang arti penting sosok Leimena, “Andaikata Oom Jo sekarang ini masih berada di tengah-tengah kita, niscaya dia akan menjadi tauladan kita semua sebagai pemimpin politik yang jujur dan sebagai pemimpin yang tetap hidup sederhana dengan murni” (Zuhdi, 2010).

Bahkan tak kurang dari Bung Karno sendiri memberikan testimoni atas dirinya: “Ambillah misalnya Leimena—seorang dokter desa. Kami pernah berjumpa sebentar di masa perang ketika ia mengobati sakit kepalaku dan kemudian, juga sebentar, ketika aku berkunjung ke kotanya setelah kemerdekaan. Tidak lama setelah itu seorang pembantuku menjemputnya untuk dibawa ke Jakarta. Sebagai seorang Kristen dari Maluku, ia mewakili dua minoritas yang kuinginkan dalam kabinetku, untuk mewujudkan semboyan kami: Bhinneka Tunggal Ika. Yang lebih penting, saat bertemu dengannya aku merasakan rangsangan indra keenam, dan bila gelombang intuisi dari hati nurani yang begitu keras seperti itu menguasai diriku, aku tidak pernah salah. Aku merasakan dia adalah seorang yang paling jujur yang pernah kutemui” (Adams, 2011: 289).

Jejak langkah Dokter Leimena merupakan contoh ekselen dari semangat ketuhanan yang menjunjung tinggi nilai keadilan. Dirinya merupakan penjelmaan dari tiga peran sosial dalam mewujudkan keadilan sosial: peran penyelenggara negara, peran pasar/pelaku usaha (sebagai dokter dan pemegang merek “salep Leimena”) dan peran masyarakat sipil (sejak aktivis mahasiswa) yang secara bergotong-royong menghadirkan kesejahteraan sosial.

(Yudi Latif, Makrifat Pagi)


Johannes Leimena (1905–1977). Sumber: Wikimedia Commons

Friday, January 13, 2017

Ketuhanan Hamka

Saudaraku, tak salah sebagian orang menjulukinya ”kiai cinta”. Dalam ceramahnya di Taman Ismail Marzuki, 11 Maret 1970, Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) mengakui, ”Dasar kepengarangan saya adalah cinta.”

Cinta altruistik, seperti pesan Hayati kepada Zainuddin dalam Tenggelamnya Kapal van der Wijck. ”Cinta bukan melemahkan hati, bukan membawa putus asa, bukan menimbulkan tangis sali sedan. Cinta menghidupkan pengharapan, menguatkan hati dalam perjuangan menempuh onak dan duri penghidupan.”

Cinta adalah kepribadiannya. Terbentuk oleh pengalaman masa kecil dan hambatan budaya yang diseberangi, yang menantangnya untuk menafsir kembali tradisi.

Hamka bukan hanya saksi, tetapi juga pelaku sejarah. Baginya, menulis merupakan upaya menancapkan posisi etisnya. Mirip kredo Milan Kundera, ”For me being a novelist was more than just working in one ‘literary genre’ rather than another; it was an outlook, a wisdom, a position; a position that would rule out identification with any politics, any religion, any ideology, any moral doctrine, any group.

Penderitaan dan perbenturan merindukan cinta, memberinya daya sensitivitas dan hasrat pengembaraan intelektualitas. Betapapun luas dan jauh pengembaraan, Hamka tak pernah lupa menariknya kembali ke posisi awal. Dibesarkan dalam jaringan keislaman yang kuat, apa pun bentuk pengucapan Hamka selalu didenyuti nilai dan posisi keislamannya.

Dalam pandangan M Yunan Nasution, mitranya di Pedoman Masjarakat (1936-1942). ”Sebagai seorang putra yang dilahirkan dan dibesarkan di tepi Danau Maninjau dengan air yang biru, ditambah penderitaan yang dialami di zaman kanak-kanak yang lebih banyak digenangi air mata perasaan, telah membentuk jiwa Hamka mempunyai perasaan halus dan peka terhadap masalah-masalah sosial-kemasyarakatan.”

Hamka kecil bangga sekaligus berjarak pada ayahnya. Bangga, karena ayahnya ulama terkenal, suhu ”kaum muda” Islam di Sumatera Barat, Dr H Abdul Karim Amrullah.

Berjarak, bukan karena kesibukan ayahnya sebagai pendakwah pengelana dalam tradisi matrilineal Minangkabau. Kecenderungan dakwahnya yang ”keras” tak kenal kompromi merembes ke cara mendidik anaknya.

Dalam Falsafah Hidup, Hamka bertutur, ”Tetapi entah bagaimana, dari umur sepuluh tahun, telah tampak jiwa saya melawan beliau…. Jiwa beliau adalah jiwa diktator…. Kalau sekiranya cara beliau mendidik itu sajalah, maulah saya terbuang, menjadi anak yang tidak berguna. Saya tidak mau pulang ke rumah, saya tidak mau mengaji, saya bosan mendengar kitab Figh yang diajarkan di Thawalib.”

Kerenggangan hubungan anak-ayah ini bukan hanya ingatan pedih dalam biografi pribadi, tetapi juga riak dari gelombang ketegangan dalam biografi kolektif. Sejak awal abad ke-19, alam Minangkabau diterjang tsunami konflik nilai, yang pusat gempanya terletak di Timur Tengah.

Menghadapi krisis Dunia Islam, sejak abad ke-17 para pembaru dalam jaringan ulama internasional mengajukan pertanyaan sentral: mengapa masyarakat Islam begitu terpuruk? Mereka tak mau mengalamatkan keterbelakangan ini pada kelemahan inheren Islam karena percaya Islam relevan untuk segala zaman. Ditudingkan, biangnya adalah pengamalan Islam yang menyimpang dari ajaran asli. Lebih parah lagi, Islam distortif penuh bidah dan takhayul itu dimistifikasi secara taqlid, tidak memungkinkan pembaruan.

Solusinya berdimensi ganda: pemurnian Islam dengan berpulang pada Al Quran dan Hadis; serta penjebolan dinding taqlid lewat ijtihad, agar Islam relevan dengan dinamika perkembangan.

Penekanan pada pemurnian berjuluk reformisme Islam. Pendukung utamanya ulama yang belum melek pengetahuan modern sehingga cenderung reaktif terhadap pengaruh Barat. Penekanan pada ijtihad berjuluk modernisme Islam. Pendukung utamanya ulama angkatan baru, yang lebih melek pengetahuan modern, sehingga bersedia melakukan apropriasi terhadap pengaruh Barat.

Sepanjang abad ke-19, reformisme Islam merupakan wacana dan ideologi dominan di Mekkah dan Madinah. Sebagai jantung dunia Islam, perkembangan ini mengancam posisi adat dan tarekat yang menjamur di Sumatera Barat sejak abad ke-18, menyusul kemunduran Pagarruyung sebagai pusat teladan.

Serangan pertama terhadap adat-tarekat datang bersama kepulangan tiga ulama pada 1802. Terpengaruh faham Wahabiyya, penetrasi ajarannya mengobarkan pertikaian, berujung Perang Paderi. Serangan kedua meledak menyusul kepulangan ayah Hamka dari Mekkah (1901 dan 1906), yang mengibarkan bendera ”kaum muda”, berhadapan dengan ”kaum tua”, bahkan ayahnya sendiri, Syekh Amrullah, pemimpin Tarekat Naqsabandiyah.

Hamka kecil menyaksikan arkeologi pengetahuan yang terbelah. Jejak-jejak heterodoksi Islam tarekat masih tersisa, dihadapkan gempuran ortodoksi Islam. Keterbatasan ayahnya dalam jaringan komunitas epistemik dan pengetahuan modern membuatnya lebih menekankan dimensi pemurnian ketimbang pembaruan.

Bentrokan antara dunia kakek dan ayah mendorong Hamka untuk melampauinya. Keberjarakan dengan ayah disertai etos perantauan Minangkabau mendorong Hamka mengembara mencari jati diri. Berbekal kemampuan baca-tulis (Arab dan Latin) dari pendidikan dasar, pada 1924 ia merantau ke Jawa; lantas ke tempat-tempat lain hingga menetap di Jakarta.

Pengembaraan meluaskan minat dan horizon pengetahuannya. ”Saya tidak dapat melupakan perkenalan saya dengan almarhum HOS Tjokroaminoto yang mulai menunjukkan pandangan Islam dari segi ilmu pengetahuan Barat saat beliau mengajarkan ’Islam dan Socialisme’ saat saya datang ke Yogyakarta tahun 1924”.

Di kota ini ia mereguk pengetahuan sosiologi dari Soerjopranoto, filsafat dan sejarah (Islam) dari KH Mas Mansur, tafsir dari Ki Bagus Hadikusumo.

Di Pekalongan, ia menemukan guru panutan dalam pendalaman studi Al Quran, AR Sutan Mansur. Di Bandung, ia bertemu A Hassan dan M Natsir, yang memberinya kesempatan belajar menulis dalam majalah Pembela Islam. Keterlibatan dalam jaringan mengendurkan atavismenya. Perluasan pengetahuan menguatkan jiwa kosmopolitan. Etos puritan dalam keluwesan pergaulan dan kelapangan jiwa mengantarnya menjadi pribadi berkarakter dan produktif dengan tetap toleran dan estetik.

Dalam paham kebangsaan, semula Hamka mengikuti pandangan Persatuan Islam (Persis), memandang nasionalisme sebagai asyabiyah yang bersifat jahiliah dan tak bisa ditolerir. Menyimak tanpa prasangka argumen yang dikembangkan pendukung kebangsaan yang netral agama, Hamka melihat kemungkinan lain. Baginya, antara kebangsaan dan Islam tidak perlu ada pertentangan, malah bisa sesuai. Hal ini menuai kritik pedas dari Persis.

Saat Bung Karno wafat, Hamka yang pernah dipenjarakan melawan arus dengan menshalati jenazahnya. Menurut dia, tidak ada hak untuk mengatakan Bung Karno munafik.

Kekayaan jaringan bukan hanya membawa kelenturan, tetapi juga kebesaran. Menurut sosiologi pengetahuan, intelektual besar kerap muncul dari jaringan besar, baik jaringan ke atas, ke samping, maupun ke bawah. Para pemikir besar galibnya memiliki guru-guru yang besar; berinteraksi dan diuntungkan oleh kehadiran para pemikir (besar) sezaman; sebagai mitra maupun ”lawan” yang mematangkan pemikiran; juga jaringan murid-muridnya yang mengikuti dan menyempurnakan pemikiran gurunya. Hamka memiliki semua itu.

Kebesaran Hamka tercemin dari peninggalannya. Tak kurang dari 118 buku yang dikarangnya. Al Azhar dengan jaringan persekolahannya menjadi ikon dari kelas menengah Muslim yang modern. Siaran keagamaan televisi yang dipeloporinya menjadi trend setter yang kini mewabah.

Hamka menjelmakan ekspresi Islam yang luas, lentur, dan estetik. Islam produktif yang membawa kemaslahatan dan kasih sayang bagi kemanusiaan universal; Islam rahmatan lilalamin!

(Yudi Latif, Makrifat Pagi)

Hamka (1908–1981). Sumber: Wikipedia Bahasa Indonesia.