Monday, November 21, 2016

Bersyukur (Gratitude)




“Bahagialah mereka yang tetap bersyukur meski dalam kesukaran.” 
—Iwan Esjepe
#iwanesjepe #wordartist #esjepequote

Saturday, November 19, 2016

Rukun dan Damai (Peaceful)



“Tuhan, hanya kepadamu aku memohon, hanya kepadamu aku meminta. 
Lindungi kami, ridoi usaha kami, kabulkanlah doa kami, untuk menjadi bangsa sebuah negeri yang rakyatnya hidup kompak, rukun dan damai.” 
—Iwan Esjepe
#iwanesjepe #wordartist #esjepequote

Wednesday, November 16, 2016

Pengabdian (Dedication)

Your work is to discover your world and then with all your heart give yourself to it. 
—Buddha
Direktur pertama Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI),sekarang Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta adalah R.J. Katamsi Martoraharjo (1897–1973). Pengabdian yang diteladankannya sebagai seorang guru kata sementara orang hanya bisa ditandingi oleh Ki Hadjar Dewantara, pahlawan pendidikan nasional Indonesia itu. 

Semangat pengabdiannya bagi dunia pendidikan ditunjukkan secara gamblang melalui perjalanan hidupnya di Yogyakarta, sejak mengajar di MULO dan AMS, kemudian merintis berdirinya akademi seni rupa pertama di Indonesia, ASRI, dan dipercaya untuk memimpinnya. Sebagai direkturnya yang pertama, R.J. Katamsi harus menerima kenyataan bahwa ia mesti memulai semuanya dari nol. Sebuah pekerjaan besar dan berat kalau diingat bahwa semua kondisi pendukungnya waktu itu sangatlah lemah; pengalaman belum ada, sumber daya manusia sangat kurang kalau tidak boleh dibilang tidak ada, gedung dan alat-alat sebagai perangkat keras juga belum ada, begitu pun perangkat lunaknya. Sebelum memiliki gedung sendiri, perkuliahan terpaksa dilaksanakan di banyak tempat dengan basis menumpang, antara lain di rumahnya sendiri di Jalan Gondolayu 20.

R.J. Katamsi memimpin ASRI hingga masa pensiunnya pada 1958. Tapi walaupun sudah pensiun, beliau masih tetap memberi kuliah baik di ASRI maupun di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada.

Walau pun di masa penjajahan Belanda R.J. Katamsi mendapat gaji 400 gulden (lebih besar dari gaji seorang dokter Jawa), pada akhir hayatnya boleh dibilang Katamsi tidak memiliki apa-apa. Namun, beliau legawa dalam soal ini sebagaimana pernah diutarakannya:
“…kalau seseorang bercita-cita ingin menjadi kaya, lebih baik jangan menjadi guru.”
Dan lebih lanjut dikatakannya:
“Pahit getir, suka dan duka sudah saya alami selama 46 tahun menjadi guru, tetapi sungguh-sungguh senang. Walau pun selama 46 tahun saya menjadi guru itu tidak menjadi orang yang kaya. Yang saya cari memang bukan kekayaan, tetapi kepuasan. Saya sudah puas jika melihat murid-murid saya menjadi orang ternama. Saya ikut bangga dan bersyukur bahwa perjuangan saya tidak sia-sia.”
—Dari buku Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia I, h. 111–115, dan 137 


Gambar memperlihatkan Presiden Soekarno pada kunjungannya ke studio ASRI, di jalan Ngabean 5, Yogyakarta, 1955, disambut oleh R.J. Katamsi dan staf pengajar lainnya.
R.J. Katamsi beserta staf pengajarnya di depan gedung ASRI di jalan Bintaran Lor.

Pengabdian (Dedication)

Your work is to discover your world and then with all your heart give yourself to it. 
—Buddha
Direktur pertama Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI),sekarang Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta adalah R.J. Katamsi Martoraharjo (1897–1973). Pengabdian yang diteladankannya sebagai seorang guru kata sementara orang hanya bisa ditandingi oleh Ki Hadjar Dewantara, pahlawan pendidikan nasional Indonesia itu. 

Semangat pengabdiannya bagi dunia pendidikan ditunjukkan secara gamblang melalui perjalanan hidupnya di Yogyakarta, sejak mengajar di MULO dan AMS, kemudian merintis berdirinya akademi seni rupa pertama di Indonesia, ASRI, dan dipercaya untuk memimpinnya. Sebagai direkturnya yang pertama, R.J. Katamsi harus menerima kenyataan bahwa ia mesti memulai semuanya dari nol. Sebuah pekerjaan besar dan berat kalau diingat bahwa semua kondisi pendukungnya waktu itu sangatlah lemah; pengalaman belum ada, sumber daya manusia sangat kurang kalau tidak boleh dibilang tidak ada, gedung dan alat-alat sebagai perangkat keras juga belum ada, begitu pun perangkat lunaknya. Sebelum memiliki gedung sendiri, perkuliahan terpaksa dilaksanakan di banyak tempat dengan basis menumpang, antara lain di rumahnya sendiri di Jalan Gondolayu 20.

R.J. Katamsi memimpin ASRI hingga masa pensiunnya pada 1958. Tapi walaupun sudah pensiun, beliau masih tetap memberi kuliah baik di ASRI maupun di Fakultas Sastra Universitas Gajah Mada.

Walau pun di masa penjajahan Belanda R.J. Katamsi mendapat gaji 400 gulden (lebih besar dari gaji seorang dokter Jawa), pada akhir hayatnya boleh dibilang Katamsi tidak memiliki apa-apa. Namun, beliau legawa dalam soal ini sebagaimana pernah diutarakannya:
“…kalau seseorang bercita-cita ingin menjadi kaya, lebih baik jangan menjadi guru.”
Dan lebih lanjut dikatakannya:
“Pahit getir, suka dan duka sudah saya alami selama 46 tahun menjadi guru, tetapi sungguh-sungguh senang. Walau pun selama 46 tahun saya menjadi guru itu tidak menjadi orang yang kaya. Yang saya cari memang bukan kekayaan, tetapi kepuasan. Saya sudah puas jika melihat murid-murid saya menjadi orang ternama. Saya ikut bangga dan bersyukur bahwa perjuangan saya tidak sia-sia.”
—Dari buku Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia I, h. 111–115, dan 137

Gambar memperlihatkan Presiden Soekarno pada kunjungannya ke studio ASRI, di jalan Ngabean 5, Yogyakarta, 1955, disambut oleh R.J. Katamsi dan staf pengajar lainnya. 



R.J. Katamsi beserta staf pengajarnya di depan gedung ASRI di jalan Bintaran Lor.

Saturday, November 12, 2016

Tanggung Jawab Kewarganegaraan (Civic Responsibility)


Ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country.”  —John F. Kennedy (1917–1963)


Ketika Nazi Jerman telah menguasai daratan Eropa, Amerika tetap berdamai. Sebanyak 76% warganya memilih bersikap netral. Tetapi serangan Jepang ke Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 pagi telah membangkitkan kemarahan Amerika dan melibatkan Amerika dalam PD II. Lebih dari 16 juta pria dan wanita, atau lebih dari sepersepuluh populasi, bertugas di angkatan bersenjata. Mereka yang tetap tinggal di rumah mengambil tanggung jawab sebagai ‘tentara sipil’ di berbagai segi kehidupan.

Partisipasi warga diperoleh melalui metode yang selaras dengan prinsip-prinsip masyarakat demokratis, dengan menyediakan insentif yang mendorong terjadinya tindakan-tindakan sukarela. Gagasan ini, dalam satu dan lain cara, ditemukan hampir di setiap poster: bahwa mempertahankan kemerdekaan sepenuhnya bergantung pada tanggung jawab warga negara—yang adalah pilihan bebasnya.

Dalam PD II, Amerika lebih banyak menggunakan poster daripada media lainnya sebagai alat propaganda dan yang paling banyak memproduksi poster dibanding negara-negara lain yang terlibat PD II. Sekitar 200.000 desain poster dicetak dengan berbagai tema, seperti merekrut tentara; menjaga kerahasiaan negara; meningkatkan dukungan warga sipil; mendorong investasi (war bond), produksi, konservasi; dan sebagainya. Berbeda dengan negara-negara sekutu lainnya, poster-poster Amerika menyampaikan pesan-pesan ‘positif’ seperti mengenai tanggung jawab warga negara, patriotisme, tradisi; alih-alih menyebarkan kebencian terhadap musuh.



Poster Even a little can help a lot–NOW, Al Palker, 1942. 


Washington menghitung kemenangan akan membutuhkan sekitar 300 miliar Dolar—sama dengan 4,4 triliun Dolar dalam jumlah saat ini. Pemerintah bisa mengumpulkan sebagiannya dari peningkatan pajak. Sisanya diserahkan kepada masyarakat.

Untuk mengumpulkan 300 miliar Dolar pada saat itu merupakan tantangan besar, karena itu berarti harus meminta setengah populasi di AS untuk membeli surat obligasi perang. Untuk menjamin keberhasilannya, biro-biro iklan di New York merekrut ahli-ahli propaganda paling potensial di Amerika. Menyadari kekuatan Hollywood beserta selebritinya, Amerika memproduksi film dalam jumlah besar. Lebih dari 300 tokoh perfilman mengikuti kampanye Stars Over America untuk menyemangati bangsa ini. Di akhir perang, kampanye surat obligasi menghasilkan 187,5 miliar Dolar. Dari pajak 112,5 miliar Dolar, total sekitar 300 miliar Dolar yang dibutuhkan tercapai.


Poster Your Victory Garden Counts More than Ever!, Hubert Morley.


Pemerintah mendorong warga mengembangkan kebun-kebun sayur untuk membantu mencegah kekurangan pangan. Bertanam di kebun (disebut: victory garden) dianggap sebagai tindakan patriotik dan perempuan didorong untuk mengalengkan (to can) serta melestarikan makananan yang mereka hasilkan dari taman ini. Semasa perang, Amerika mengembangkan 50 juta victory garden. Ini menghasilkan lebih banyak sayuran dari total produksi komersial, dan sebagian besar dipertahankan, mengikuti slogan ”Eat what you can, and can what you can’t.”


Poster When you ride ALONE, you ride with HITLER!


Ketika bahan bakar dan perlengkapan perang lainnya menjadi langka, warga dihimbau melakukan penghematan.

Kejahatan Nazi sering dipersonifikasi ke dalam gambar (berwujud) Hitler. Poster ini ditujukan untuk menghemat pemakaian bahan bakar bensin dengan cara bergabung dengan klub-klub berbagi-mobil (car-sharing club). Pemborosan sama artinya dengan pertolongan bagi musuh. 

Catatan: 
Kata kunci konservasi atau berhemat tetap relevan terutama dalam menghadapi tantangan global masa kini seperti perubahan iklim. Membiasakan diri dengan hal-hal kecil bisa sangat berarti, misalnya mematikan lampu saat keluar dari kamar, ketika membeli lemari es memperhitungkan biaya listriknya, memakai sumber alam dengan bijak, dan seterusnya.


—Dari buku Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia I, h. 87–90




Friday, November 11, 2016

Hak Asasi Manusia (Human Rights)


It means a great deal to those who are oppressed to know that they are not alone. Never let anyone tell you that what you are doing is insignificant.
—Desmond Tutu (1931–kini)


Ratusan artis, termasuk Pablo Picasso (1881–1973) dan Joan Miró (1893–1983), menyumbang karya bagi Amnesti Internasional sepanjang 50 tahun perjalanannya.

Di situs Amnesti Internasional dituliskan: \
“Jalan panjang harus ditempuh sebelum hak asasi manusia menjadi kenyataan bagi semua orang. Tapi para seniman, sebagaimana halnya dengan Amnesti Internasional, akan selalu berada di jalan itu di setiap langkahnya.”

Poster Prisoner of Conscience, Joan Miró (1893-1983), 1977.

Poster Universal Declaration of Human Rights, Woody Pirtle (1944–kini), 1998.


—Dari buku Desain Grafis Indonesia dalam Pusaran Desain Grafis Dunia I, h. 153

Monday, October 31, 2016

Membangun Manusia (Character Building)

“Ketika bangsa Cina ingin hidup tenang, mereka membangun tembok Cina yang sangat besar. Mereka berkeyakinan tidak ada orang yang sanggup menerobosnya karena tinggi sekali. 
Akan tetapi 100 tahun pertama setelah tembok selesai dibangun, Cina terlibat tiga kali peperangan besar.
Pada setiap kali peperangan itu, pasukan musuh tidak menghancurkan tembok atau memanjatnya, tapi cukup dengan menyogok penjaga pintu gerbang. 
Cina di zaman itu terlalu sibuk dengan pembangunan tembok, tapi mereka lupa membangun manusia. 
Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apa pun. Dan itulah yang dibutuhkan oleh semua bangsa.” 
—Jared Diamond (1937–....)

Mengapa masyarakat-masyarakat runtuh

Mengapa sejumlah masyarakat di dunia mengalami kejatuhan? Dengan belajar dari bangsa Viking di Greenland pada Zaman Besi, penggundulan hutan di Pulau Paskah, juga kondisi Montana masa kini,  Jared Diamond, penulis penerima penghargaan Pulitzer berbicara mengenai tanda-tanda keruntuhan yang sudah dekat, dan bagaimana—kalau kita melihatnya—kita dapat menghindarinya. 

Menurut Jared, peradaban negara-negara seperti Indonesia, Kolumbia, dan Filipina sebentar lagi akan punah.

Lebih jauh dengan Jared Diamond (tersedia transkrip dalam Bahasa Indonesia):